NAHKODA DAN FILSUF

Cerita ini, saya ambil dari buku The Islamic Golden Rules : 17 Aturan Emas Meraih Puncak Kesuksesan dan Kejayaan, karya Prof. Laode Kamaluddin (Rektor Universitas Sultan Agung Semarang) dan A. Mujib El Shirazy (adiknya Pak Habib “AAC”). Bagi yang sudah pernah membacanya, tak ada salahnya juga untuk membaca lagi, bagi yang belum…semoga menginspirasi.

Nahkoda dan Filsuf

Suatu hari, seorang filsuf melakukan perjalanan jauh. Tidak seperti biasanya, dalam perjalanan kali ini, ia memilih transportasi laut. Di dalam perahu itu, ia berkenalan dengan sang nahkoda. Hanya beberapa saat saja, mereka sudah sedemikian akrab. Mereka salaing bercerita tentang kehidupannya kepada temannya, saling bertukar pikiran tentang hal-hal yang mereka ketahui. Dan percakapan keduanya pun berlangsung,
            “ Apakah Tuan pernah belajar filsafat? “ tanya Sang filsuf.

            “ Sama sekali tidak pernah Tuan..” sahut Sang nahkoda.

            “ Sayang sekali, Tuan telah kehilangan separo kehidupan Tuan,.. “ balas Sang filsuf.

            Dari  raut mukanya, nampak sekali rasa kasihan Sang filsuf atas Sang Nahkoda yang tidak pernah belajar filsafat. “ Alangkah ruginya orang seperti Tuan Nahkoda ini,” gumam Sang filsuf dalam hati.

            Waktu terus berjalan, dan kapal pun berlayar menyisir lautan. Sementara, dua prang yang baru saja berkenalan itu sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Sementara Sang nahkoda sibuk dengan mengendalikan kapalnya, Sang filsuf tenggelam dengan keasyikan membaca buku.

            Lalu sesuatu terjadi, langit yang tadinya sangat cerah, berubah menjadi pekat, suara petir terdengar menggelegar memekakkan telinga, laut yang tadinya tenang, mulai bergelora, dan terlihat ombak menggulung-gulung setinggi gunung, badai yang luar biasa dahsyatnya menerjang kapal menghasilkan goncangan yang luar biasa.

            Buru-buru Sang nahkoda menuju kamar sahabat barunya, Sang filsuf. Di sana, di dapati wajah Sang filsuf pucat dicekam rasa takut.

            Kepada Sang filsuf, Sang nahkoda bertanya, “Apakah Tuan filsuf pernah belajar berenang? “ Sang filsuf dengan wahaj pucat pasi hanya menggelengkan kepala.

            “Tuan.” Kata Sang nahkida, “bila Tuan tidak bisa berenang, maka Tuan terancam bahaya besar, sangat mungkin Tuan akan kehilangan seluruh hidup Tuan hari ini,…” kata Sang nahkoda.

***

            Dunia pengetahuan membentang begitu luasnya. Ia laksana lautan yang tak bertepi, meski ribuan mil telah kita arungi. Namun, daratan tak juga terlihat di pelupuk mata. Memburu pengetahuan tak ubahnya mengejar cakrawala. Terus saja kita berlari, terus berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, atau bertahun-tahun lamanya, namun cakrawala tak juga mampu kita tangkap. Dan begitulah perjalanan mencari ilmu, meskipun ribuan tahun kita gunakan untuk menggali ilmu pengetahuan, ternyata masih ada saja yang luput dari pandangan kita, sesuatu yang tersisa, sesuatu yang belum kita pelajari.

            Semakin lama seseorang mencari ilmu, semakin teranglah ia akan keterbatasan dirinya. Pada titik itu, rontoklah ribuan kesombongan yang menyesakkan dada, dan yang tersisa adalah ketawadhuan, dan sikap merunduk lebih dalam, sembari mengucapkan tasbih, memuji Dzat pemilik pengetahuan. (Inget cerita Padi, kan?)

            Sesungguhnya, pengetahuan tak memiliki nama, semua satu, berasal dariDzat Yang Esa, yaitu Alloh. Alloh menganugerahkan ilmu pengetahuan ini kepada manusia untuk memberikan kemudahan dalam menjalani kehidupannya di dunia, juga membantunya menggapai kebahagiaan akhirat. Namun, untuk memudahkan klasifikasi, manusia lantas melakukan pemilahannya, dan nulai mengkotak-kotakkannya. Ada yang memilah antara olmu dunia dan akhirat. Ilmu akhirat sendiri akhirnya dipilah ke dalam ilmu tafsir, hadits, fiqih, tauhid, dll (gag kuku kalo harus njelasin satu-satu ni. Hehe). Sedangkan dunia, lebih berwarna lagi, kita mengenal ilmu biologi, fisika, ekonomi, sejarah, dll. Lebih luas lagi, kita sesungguhnya masih dapat membedakan adanya ilmu seorang petani, dokter, pedagang, kernet, penenun, (bahkan) pencopet. Ada ribuan, bahkan jutaan pengetahuan di sana.

            (Dan, kita masuk ke inti pembicaraan niiiii)   

Di antara pengetahuan yang beraneka ragam tersebut, semuanya memiliki andil dalam kehidupan manusia. Semuanya penting dan memiliki manfaat dalam ruangnya yang berbeda. Seandainya dilenyapkan ilmu kedokteran dan tidak ada satu pun dokter di muka bumi ini, maka bahaya penyakit akan mengancam seluruh umat manusia, penyakit menular yang tak terkendali, akan dengan cepat menyebar yang apada akhirnya melenyapkan kehidupan.

Seandainya, tidak ada ilmu fisika, maka bisa dipastikan selamanya kita akan menjadi manusia yang primitif, tidak akan ada lampu listrik yang menerangi bumi di malam hari, tak ada kipas angin, tak ada mobile, pesawat, lift, jembatan layang. Dan kalau saja, tidak ada orang yang memiliki pengetahuan menenun baju, pasti semua orang di muka bumi ini akan berjalan dengan telanjang. Pun seandainya ilmu pertanian di lenyapkan, maka umat manusia akan terancam bahaya kelaparan.

Diantara beragamnya ilmu pengetahuan yang menyebar di muka bumi ini, teramat sukar untuk dikatakan adanya satu pengetahuan yang lebih dari yang lain, semuanya penting, semuanya bermanfaat, dan semuanya dibutuhkan oleh umat manusia.

Karena itulah, tidak layak bagi seseorang pencari ilmu menjadi pongah/ sombong merasa dirinya paling hebat, merasa yang dimilikinya paling penting, karena pada akhirnya, ia pun akan membutuhkan orang lain yang menguasai pengetahuan dengan disiplin yang berbeda.

Seorang filsuf bisa jadi telah menemukan keindahan dunia dari rahasia kehidupan manusia, bisa mencapai pengetahuan pada hakikat tertentu. Namun, pada saat yang sama, dalam kehidupannya, ia membutuhkan seorang dokter yang mendiagnosis jenis penyakit dan menunjukkan kepadanya pencegahan atas penyakit itu. Sorang dokter bisa jadi telah mampu memahami anekaragam jenis penyakit yang mengancam kehidupan manusia, dan mampu mencegah kemunculan penyakit-penyakit yang berbahaya tersebut. Namun, ia tetap saja membutuhkan kepiawaian seseorang yang menguasai ilmu perkapasan sekedar untuk menutupi tubuhnya. Dan demikian seterusnya.

Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah, layaknya kisah nahkoda dan filsuf di atas. Bahkan, seorang profesor yang ilmunya menjulang tinggi membutuhkan uluran tangan seorang nahkoda kapal untuk menyelamatkan dirinya dari tenggelam di lautan luas. Ya, seperti kisah nahkoda dan filsuf di atas, dimana keduanya memiliki kehebatan dan kelebihan sendiri-sendiri.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s